Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. Mazmur ini tidak digubah hanya untuk penggunaan pribadi dan khusus dari penggubahnya saja. Ketika Daud menunjukkan teladan bagi kita, ia sedang menunjukkan jalan yang harus kita ikuti. Kita diajar di sini, bahwa kita dibentengi dengan kuat terhadap strategi setan, ketika Taurat Allah mengakar dalam di hati kita. Kecuali Firman bertakhta dengan kuat dan kokoh di sana, kita segera jatuh dalam dosa. Ada ahli-ahli yang pengetahuannya berada dalam buku-buku; jika buku itu tidak selalu ada di depan mereka, ketidaktahuan mereka segera nyata. Demikian juga, jika kita tidak minum dari doktrin Allah, dan mengenalnya dengan baik, setan dengan mudah mengejutkan dan membelit kita dalam jeratnya. Perlindungan kita yang sejati bukan berada dalam pengetahuan tipis tentang Taurat-Nya, atau pembacaan sekilas tentang itu, melainkan meletakkannya dalam-dalam di hati kita. Kita diingatkan, betapapun seseorang yakin akan kebijaksanaannya sendiri, semua orang tidak punya penilaian yang benar, kecuali sejauh mereka menjadikan Allah pengajar mereka.
Ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku. Kita diajarkan bagian ini, bahwa jika Allah tidak menerangi kita dengan roh pengertian, kita tidak sanggup memandang terang yang muncul dari Taurat ini, meski terang itu terus-menerus ada di depan kita. Tidak sedikit orang yang buta bahkan ketika mereka dikelilingi pernyataan yang jelas dari doktrin ini, karena mereka yakin pada kepandaian mereka sendiri, sehingga menghina penerangan batiniah dari Roh Kudus. Mari kita belajar lebih jauh lagi, bahwa tidak ada orang yang sudah demikian superior dalam intelek, sehingga tidak ada lagi ruang bagi pertumbuhan yang konstan. Jika sang nabi sendiri, yang Allah berikan jabatan demikian terhormat sebagai guru dari Gereja, mengakui dirinya hanya murid atau pelajar, bukankah gila, jika orang-orang yang ketinggalan jauh dari pencapaiannya, tidak mengerahkan segala otot untuk menjadi semakin baik? Sang nabi juga tidak bergantung pada perbuatan baiknya sendiri untuk mendapatkan jawaban permintaan ini; ia memohon Allah untuk mengabulkannya demi kemuliaan-Nya sendiri.
Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi
Friday, September 7, 2018
Thursday, September 6, 2018
Mazmur 119:9-10
Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu. Betapapun seseorang membanggakan hasil usahanya sendiri, tidak ada yang murni dalam hidup mereka hingga mereka membuat penyerahan diri total pada Firman Allah. Pemazmur memakai contoh anak kecil atau pemuda untuk menggerakkan manusia berserah pada Firman. Ketika anak muda disebutkan, bukan berarti pada orang dewasa atau tua diberikan kebebasan tak terbatas, seakan-akan kebijaksanaan mereka sendiri menjadi hukum bagi diri mereka. Melainkan, orang muda berdiri di persimpangan jalan hidup mereka, dan mereka harus memilih jalan hidup mana yang akan mereka ikuti. Pemazmur menyatakan, ketika seseorang mulai menetapkan jalan hidupnya, tidak ada nasihat manapun yang berguna, kecuali hukum Allah sebagai aturan dan pembimbingnya. Dengan itu sang nabi mendorong orang untuk menetapkan tingkah laku mereka dari sejak dini dan tepat waktu, dan tidak menunda-nunda, sesuai kata-kata Salomo, “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: "Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!"” (Pengkhotbah 12:1).
Kita dapat mengikuti alur logika dari yang besar kepada yang kecil. Jika hukum Allah memiliki kuasa untuk mengekang keliaran anak muda, sehingga semua yang dibimbingnya dipelihara murni dan lurus, maka tentulah ketika mereka menjadi dewasa, dan gairah mereka yang tak menentu telah berkurang, maka hukum Allah akan menjadi obat terbaik untuk menyembuhkan kejahatan-kejahatan mereka. Mengapa begitu banyak kejahatan ada dalam dunia, adalah karena manusia berkubang dalam kecenderungan mereka sendiri, bukannya instruksi surgawi. Satu-satunya perlindungan yang pasti adalah, mengatur diri kita sesuai Firman Allah. Orang-orang yang menganggap mereka bijak dalam kesombongan mereka, melemparkan diri ke dalam jebakan setan. Yang lain, dari kegelisahan dan kemalasan, hidup dengan jahat.
Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi
Wednesday, September 5, 2018
Mazmur 119:1-8
Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela. Sang nabi mengungkapkan paradoks yang sama, yang kita jumpai di awal kitab Mazmur. Semua manusia secara alamiah mencari kebahagiaan. Tetapi bukannya mengejarnya di jalan yang benar, mereka dengan gigih memilih mengembara melalui jalan-jalan pintas yang tidak berujung, sampai kepada kehancuran dan kebinasaan mereka. Sepantasnyalah Roh Kudus menghakimi ketidakpedulian dan kebutaan ini. Sebetulnya makna kata-kata ini akan nampak jelas bagi manusia, jika saja ia tidak dihanyutkan keserakahannya, dengan spontanitasnya yang liar. Semakin jauh seseorang meninggalkan Allah, ia kira dirinya semakin bahagia. Maka semua menganggap apa yang dinyatakan Roh Kudus tentang kesalehan sejati dan ibadah pada Allah, sebagai dongeng. Doktrin ini diterima oleh paling banyak satu orang di antara seratus.
Kata jalan atau hidup di sini berarti cara hidup, atau jalan hidup. Pemazmur menyebut orang-orang berikut lurus dalam jalan mereka, yaitu orang-orang yang kerinduannya dengan tulus dan seragam adalah melaksanakan keadilan, dan mendedikasikan hidup mereka bagi tujuan ini. Di bagian berikutnya ayat ini, ia mengatakan dengan lebih spesifik dan jelas, bahwa hidup yang saleh dan benar adalah berjalan menurut Taurat TUHAN. Jika seseorang mengikuti keinginan dan nafsunya, ia pasti akan tersesat. Bahkan jika seluruh dunia bertepuk tangan untuknya, ia hanya melelahkan dirinya dengan setiap kesia-siaan. Pertanyaannya, apakah sang nabi menutup harapan akan kebahagiaan sejati dari semua orang yang tidak menyembah Allah dengan sempurna? Jika demikian, maka hanya malaikat sajalah yang dapat berbahagia, karena ketaatan sempurna pada Taurat tidak dapat ditemukan di manapun di bumi. Jawabannya mudah: ketika ketidakbercelaan dituntut dari anak-anak Allah, mereka tidak kehilangan anugerah penghapusan dosa mereka, yang adalah satu-satunya sumber keselamatan mereka. Sementara para hamba Allah berbahagia, mereka masih perlu berlindung dalam belas kasihan-Nya, karena ketidakbercelaan mereka belum sempurna. Demikianlah orang-orang yang dengan setia menaati hukum Allah dikatakan berbahagia, dan apa yang dikatakan dalam Mazmur 32:2 digenapi, “Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN.”
Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi
Tuesday, September 4, 2018
Mazmur 118:22-29
Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Daud melanjutkan dengan mengulang, bahwa adalah suatu kesalahan untuk menilai kerajaan Kristus oleh perasaan dan pendapat manusia. Meski dunia melawannya, tetapi kerajaan Kristus didirikan dengan cara yang ajaib oleh kuasa Allah yang tak terlihat. Sementara itu, kita harus ingat, bahwa apa yang digenapi dalam pribadi Kristus, juga sampai kepada pertumbuhan kerajaan-Nya, bahkan sampai ke ujung bumi. Ketika Kristus tinggal di bumi, Ia dibenci oleh para imam besar. Kemudian orang-orang yang menyebut diri penerus Petrus dan Paulus, tapi yang sesungguhnya adalah para Ananias dan Kayafas, menyatakan perang terhadap Injil dan Roh Kudus. Tetapi pemberontakan hebat ini seharusnya tidak membuat kita gelisah. Melainkan marilah kita dengan rendah hati mengagungkan kuasa ajaib Allah, yang membalikkan keputusan-keputusan jahat dari dunia. Seandainya pengertian kita yang terbatas sanggup memahami jalan yang Allah ambil untuk melindungi dan memelihara Gereja-Nya, kita tidak akan menyebutnya mujizat. Kesimpulannya, cara Allah bekerja tidak dapat kita pahami sepenuhnya, melampaui pengertian manusia.
Jika kita dapat mengingat nubuatan ini, iman kita tidak akan gagal, melainkan semakin diteguhkan. Dari segala hal ini nampak lebih jelas, bahwa kerajaan Kristus tidak bergantung pada perkenanan manusia, dan tidak memperoleh kekuatan dari dukungan duniawi, seperti juga kerajaan itu tidak dibangun oleh pilihan manusia. Namun, jika ahli bangunan membangun dengan baik, maka kesalahan orang-orang yang tidak mau mencocokkan diri mereka dengan bangunan kudus itu, semakin tidak dapat dimaafkan. Kita akan sering dicobai oleh godaan ini, maka janganlah kita lupa, tidaklah masuk akal untuk menuntut Gereja diatur berdasarkan pengertian kita. Jangan kita lupa bahwa kita tidak memahami bagaimana Gereja dipimpin, karena itu adalah mujizat yang melampaui pemahaman kita.
Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi
Monday, September 3, 2018
Mazmur 118:18-21
TUHAN telah menghajar aku dengan keras, tetapi Ia tidak menyerahkan aku kepada maut. Daud mengakui dalam kata-kata di atas bahwa musuh-musuhnya menyerangnya dengan tidak adil, bahwa mereka dipakai Allah untuk menegurnya, bahwa ini adalah hajaran seorang bapak, karena Allah bukan membuat luka yang mematikan, melainkan menegurnya sesuai takaran yang diperlukan dan dalam belas kasihan. Daud seperti menunggu keputusan jahat dari orang jahat yang menekannya dengan berat, seakan-akan segala ketidakadilan yang ia tanggung adalah tanda dibuangnya ia oleh Allah. Fitnah yang dilemparkan padanya oleh orang buangan, ia tangani dengan sangat berbeda, yaitu dengan menyatakan bahwa teguran ini ringan dan dari tangan Bapa. Hal utama dalam penderitaan adalah mengetahui bahwa kita direndahkan oleh tangan Allah, dan inilah cara yang Ia pakai untuk membuktikan kesetiaan kita, membangunkan kita dari tidur, menyalibkan manusia lama kita, memurnikan kita dari kotoran, membawa kita menjadi tunduk pada Allah, dan mendorong kita untuk merenungkan hidup surgawi.
Jika segala hal ini kita ingat, maka tidak ada satupun dari kita yang tidak akan gemetar hanya membayangkan berkeluh kesah melawan Allah, melainkan kita dengan rela dan rendah hati tunduk pada-Nya. Tingkah kita yang seperti kuda yang meronta-ronta tak sabar, muncul dari kebanyakan orang tidak melihat penderitaan mereka sebagai tongkat di tangan Allah, dan dari orang yang lain tidak berbagian dalam kasih sayang kebapakan-Nya. Bagian terakhir ayat ini perlu diperhatikan secara khusus. Allah selalu bertindak penuh belas kasihan pada umat-Nya, sehingga teguran-Nya adalah obat mereka. Cinta-Nya sebagai Bapa tidak selalu nampak jelas, namun pada akhirnya akan terlihat bahwa teguran-teguran-Nya, sama sekali tidak mematikan, melainkan berfungsi seperti obat, yang sementara mungkin menyebabkan kita lemah, tapi mengusir penyakit kita, dan membuat kita sehat dan kuat.
Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi
Sunday, September 2, 2018
Mazmur 118:1-17
Pujilah TUHAN, hai segala bangsa. Oleh mulut sang nabi, Roh Kudus memerintahkan segala bangsa untuk merayakan puji-pujian bagi belas kasihan dan kesetiaan Allah. Dalam suratnya pada jemaat Roma, Paulus dengan tepat menilai hal ini sebagai nubuatan mengenai panggilan bagi seluruh dunia (15:11). Bagaimana orang tak beriman memenuhi kualifikasi untuk memuji Allah; orang-orang yang bukannya tanpa belas kasihan-Nya, tetapi tidak menyadarinya, dan tidak mengerti kebenaran-Nya? Tidak ada gunanya sang nabi menujukan kata-kata ini pada bangsa-bangsa kafir, kecuali mereka akan dikumpulkan dalam kesatuan iman dengan anak-anak Abraham.
Kasih dan kesetiaan TUHAN menyediakan bahan pujian bagi-Nya. Allah akan dipuji di segala tempat oleh bangsa-bangsa kafir, bukan sementara pengenalan akan-Nya masih terbatas pada sebagian kecil tanah Yehuda, melainkan karena pengenalan itu akan tersebar di seluruh dunia. Pertama, ia mengajak memuji Allah, karena kebaikan-Nya ditambahkan atau dikuatkan, sebagaimana artinya dalam bahasa Ibrani. Kedua, karena kesetiaan-Nya untuk selama-lamanya. Maka bagaimana mungkin, orang-orang yang melewatkan kebaikan-Nya dengan ketidakpekaan brutal, dan menutup telinga mereka terhadap doktrin surgawi, dapat merayakan pujian-Nya?
Kesetiaan Allah, dalam bagian ini, diperkenalkan sebagai kesaksian dari belas kasihan-Nya. Ia tetap setia, bahkan ketika Ia mengancam seluruh dunia dengan kehancuran dan keruntuhan. Namun sang nabi menempatkan kasih-Nya di urutan pertama, supaya kesetiaan dan kebenaran-Nya sebagai jaminan kebaikan-Nya sebagai Bapa kita, menghibur hati orang saleh. Kuasa dan keadilan-Nya sama layaknya menerima pujian. Tetapi manusia tidak akan pernah memuji Allah dengan tulus sampai mereka ditarik oleh cicipan kebaikan-Nya, sang nabi dengan tepat memilih kasih dan kebenaran Allah, yang membuka mulut manusia yang bisu.
Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi
Saturday, September 1, 2018
Mazmur 117
Pujilah TUHAN, hai segala bangsa. Oleh mulut sang nabi, Roh Kudus memerintahkan segala bangsa untuk merayakan puji-pujian bagi belas kasihan dan kesetiaan Allah. Dalam suratnya pada jemaat Roma, Paulus dengan tepat menilai hal ini sebagai nubuatan mengenai panggilan bagi seluruh dunia (15:11). Bagaimana orang tak beriman memenuhi kualifikasi untuk memuji Allah; orang-orang yang bukannya tanpa belas kasihan-Nya, tetapi tidak menyadarinya, dan tidak mengerti kebenaran-Nya? Tidak ada gunanya sang nabi menujukan kata-kata ini pada bangsa-bangsa kafir, kecuali mereka akan dikumpulkan dalam kesatuan iman dengan anak-anak Abraham.
Kasih dan kesetiaan TUHAN menyediakan bahan pujian bagi-Nya. Allah akan dipuji di segala tempat oleh bangsa-bangsa kafir, bukan sementara pengenalan akan-Nya masih terbatas pada sebagian kecil tanah Yehuda, melainkan karena pengenalan itu akan tersebar di seluruh dunia. Pertama, ia mengajak memuji Allah, karena kebaikan-Nya ditambahkan atau dikuatkan, sebagaimana artinya dalam bahasa Ibrani. Kedua, karena kesetiaan-Nya untuk selama-lamanya. Maka bagaimana mungkin, orang-orang yang melewatkan kebaikan-Nya dengan ketidakpekaan brutal, dan menutup telinga mereka terhadap doktrin surgawi, dapat merayakan pujian-Nya?
Kesetiaan Allah, dalam bagian ini, diperkenalkan sebagai kesaksian dari belas kasihan-Nya. Ia tetap setia, bahkan ketika Ia mengancam seluruh dunia dengan kehancuran dan keruntuhan. Namun sang nabi menempatkan kasih-Nya di urutan pertama, supaya kesetiaan dan kebenaran-Nya sebagai jaminan kebaikan-Nya sebagai Bapa kita, menghibur hati orang saleh. Kuasa dan keadilan-Nya sama layaknya menerima pujian. Tetapi manusia tidak akan pernah memuji Allah dengan tulus sampai mereka ditarik oleh cicipan kebaikan-Nya, sang nabi dengan tepat memilih kasih dan kebenaran Allah, yang membuka mulut manusia yang bisu.
Artikel oleh John Calvin
Terjemahan oleh Tirza Rachmadi
Subscribe to:
Posts (Atom)




